Everna Saga – Goldilocks dan Tiga Beruang

Everna Saga - Goldilocks dan Tiga Beruang

Karangan Andry Chang

“Ayah, ibu! Ada kabar baik!” seru Garn si beruang kecil berulang-ulang, sambil memasuki ruang duduk rumahku.

“Ada apa, Garn?” tegurku sambil mengalihkan pandangan dari buku yang sedang kubaca. “Katakan dengan sopan!”

“Begini, ayah, aku menemukan sarang lebah yang besar di pohon ek di tenggara hutan! Ayo kita ambil madunya sebelum hari gelap!”

“Wah, madu hutan! Ayo kita ambil!” sahut istriku, masih mengenakan gaun dan celemek saat bergegas keluar dari dapur.

Sambil membetulkan letak kacamata di moncongku, aku protes, “Lho, ‘kan bubur kita sudah siap di meja makan! Tak bisakah tunggu besok saja…?”

Namun ibu dan anak itu telah melangkah cepat keluar rumah.

Terpaksa aku mengenakan jasku dengan terburu-buru, bergegas mengikuti dua beruang siluman berbulu sama coklat denganku itu sambil menggeleng dan menggerutu, “Dasar mental beruang.”

==oOo==

“Hmm, madu hutan memang paling lezat di dunia,” ujar si ibu beruang, Ull sambil menjilati sisa madu dari moncong dan cakarnya. “Entah kapan lagi kita dapat menikmati kemewahan tertinggi Kaum Ursa ini.”

Aku menanggapi istriku dengan memberengut. “Besok-lusapun bisa, andai kau dan Garn menyisakan cukup banyak untuk dibawa pulang. Yang ada sekarang hanya setengah guci madu dan sekeranjang stroberi liar yang kaupetik di tengah jalan tadi.”

Garn menepuk dahinya. “Ya ampun! Aku sampai lupa makan malam kita! Buburnya pasti sudah dingin sekarang!”

“Tenang saja anakku, nanti ibu panaskan lagi.” Ull lalu menunjuk ke depan. “Lihat, kita hampir sampai di rumah.”

Untuk sesaat, senyum tersungging di moncongku. Terbayanglah saat-saat indah di mana kami duduk bertiga, berbagi santapan dan canda-tawa layaknya keluarga beradab nan bahagia.

Namun saat hendak memasuki rumah, aku terperanjat. Bagaimana tidak, jejak-jejak sepatu berlumpur tampak memanjang dari pintu hingga ke kursi empuk kesayanganku di ruang duduk.

Parahnya, kayu bakar di perapian ruang duduk itu dibiarkan menyala. Padahal, kami Kaum Ursa hanya menggunakannya di musim dingin. Dengan begitu, kami tak perlu lagi tidur panjang, berhibernasi. Cukup bulu tebal dan pakaian kami saja yang menjaga tubuh kami tetap hangat.

“Ada manusia masuk rumah kita!” seru Garn dengan polosnya.

Ull menimpali, “Ayo kita labrak dia!”

“Shh, jangan gegabah!” bisikku, cakarku teracung di depan moncongku. “Dia mungkin berbahaya!”

“Kau benar, Bar,” kata Ull. “Maaf, ya. Maklum, naluri.”

Aku hanya mengangguk lalu kembali mengendap-endap. Jejak-jejak sepatu manusia itu berlanjut dari ruang duduk dan terus ke dapur.

Lagi-lagi kami bertiga terkesima. di meja ruang makan merangkap dapur itu tampak piring-piring kosong berserakan. Sisa-sisa bubur daging yang disebut goulash di kalangan manusia itu menempel sedikit-sedikit di ketiga piring itu. Hanya bubur di panci saja yang tak tersentuh.

“Astaga, goulashnya!” Istriku berseru tertahan. “Manusia macam apa dia itu? Jejak-jejak sepatunya sekecil sepatu kurcaci, tapi ia menghabiskan makanan tiga beruang! Rakusnya!”

“Biar kulabrak dia sekarang juga, ayah!” geram Garn. “Dagingnya bakal jadi ganti bubur yang telah dia curi!”

“Jaga pikiranmu, Garn!” bentakku. “Kita Kaum Ursa tak lagi hidup dalam hukum rimba! Kita bukan beruang liar di hutan sana! Ingat, satu-satunya cara kita bisa hidup berdampingan dengan manusia adalah dengan mengikuti cara hidup dan peradaban mereka! Tidak seperti para pendahulu kita yang hampir punah karena diburu!”

Garn berdiri dan tertunduk. “M-maaf, ayah. aku kesal karena manusia tak tahu diri itu sudah seenaknya di rumah kita.”

“Yah, kita juga salah, meninggalkan pintu rumah terbuka dan bubur di meja,” kata Ull.

“Begini saja, kita coba lihat dulu manusia itu,” ujarku. “Lihat, jejak-jejaknya menyusuri tangga dan terus ke kamar tidur kita.”

Ull dan Garn mengikutiku menaiki tangga, sambil sesekali menggeram.

Kamar tidur kami tidaklah besar, namun cukup luas untuk menampung satu ranjang yang sangat besar, satu ranjang yang sedikit lebih kecil dan yang terkecil seukuran manusia. Ditambah juga lemari baju dan meja kecil untuk tempat menaruh lilin.

Jejak-jejak sepatu itu berakhir di ranjang kecil Garn. Seketika, tampaklah sosok yang sedang tidur nyenyak di sana.

Ternyata sosok itu adalah seorang gadis manusia berusia sekitar tiga belas tahun, dengan rambut pirang keemasan yang panjang sepinggang. Ia mengenakan gaun dan pakaian biasa dan kotor layaknya gadis petani. Seyum damai terulas di wajah kotor namun tetap manis itu, bahkan dengkurnyapun terdengar merdu.

Melihat ranjangnya dipakai dan jadi kotor, Garn tak ayal menarik gadis itu dengan kasar hingga jatuh terduduk di lantai.

“Aduuh! Siapa yang…!” Si gadis membuka kedua mata berbola birunya. Melihat penampilan kami bertiga, ia berteriak ngeri.

“Heh, baru tahu siapa penghuni rumah ini?” sergah Ull. “Kau sangat nakal, gadis kecil. Jadi kau harus kami hukum!”

“Ampun, aku tak tahu!” seru si gadis mengiba. “Sudah tiga hari aku tersesat, kelelahan dan kelaparan di hutan ini, jadi aku tak sempat permisi saat melihat ada rumah kosong terbuka dan bubur tersaji. Aku tak sempat pikir panjang lagi!”

“Aah, alasan!” bentak Garn sambil menggeram. “Kenapa pula kau duduk-duduk di kursi ayahku, menyalakan perapian, lalu tidur di ranjangku, hah?”

“S-semula aku hanya ingin istirahat sejenak untuk mengusir kedinginanku di musim gugur ini, lalu pergi setelah menulis pesan tanda terima kasih. Namun aku jadi sangat mengantuk, jadi terpaksa aku mencari ranjang…!”

“Cukup! Biar kuberi pelajaran…!” Garn mengayunkan cakarnya, siap mencabik si penyusup.

Namun aku menghentikan aksi anakku dengan berseru, “Hentikan, Garn! Sudah ayah bilang, kita harus gunakan cara yang beradab!”

“Iya, ayah.” Garn menyurut mundur, namun matanya masih menatap sebal pada gadis itu.

Jadi, giliranku bicara pada si penyusup, “Siapa namamu, nak?”

 Si gadis menjawab, “Namaku Lyv Tryndalyn. Aku biasa dipanggil Goldilocks karena rambutku ini.”

“Lantas apa yang membuatmu berkeliaran di hutan ini?”

“Ibuku sakit keras, satu-satunya obat yang dapat menyembuhkannya hanya ekstrak bunga yamimya. Aku mencari bunga itu di hutan, namun aku belum berhasil dan malah tersesat. Aku mengaku salah, pak beruang. Kumohon, maafkanlah aku.”

“Oh, jadi begitu persoalannya.” Aku mengangguk sambil membetulkan letak kacamataku lagi. “Nah Goldilocks, karena kau sudah minta maaf, kau boleh menginap di sini sampai kau sehat dan segar lagi. Oh ya, kebetulan kami punya ekstrak bunga yamimya yang telah diolah menjadi ramuan penyembuh. Bawalah itu untuk ibumu.”

“Oh, terima kasih, pak beruang!” sorak Goldilocks dengan polosnya.

“Wah, tidak bisa, ayah!” Garn protes lagi. “Masa’ orang yang menyusup dan mencuri di rumah kita ayah izinkan tidur di ranjangku? Dia harusnya diberi pelajaran! Tapi ayah malah percaya begitu saja pada ceritanya?”

“Ayah yakin Goldilocks tidak bohong, nak. Lihat, wajah, tubuh dna pakaiannya serba kotor dan rambutnya kusut. Kalaupun ia benar-benar pencuri, ia pasti sudah pergi membawa barang-barang berharga kita, bukan goulash. Gunakanlah akal sehat.”

“Kau benar, sayang,” kata Ull.

“Iya ayah, seharusnya aku berpikir lebih panjang dan tak mengandalkan naluri beruang saja.” Garn tertunduk malu-malu, membuat beruang berwajah bulat itu kelihatan makin lucu dan menggemaskan saja. “Maaf ya ayah, maaf ya Goldilocks.”

Goldilocks tersenyum manis ke arah Garn walau masih menyisakan setitik ketakutan. “Aku yang seharusnya minta maaf dan berterima kasih banyak. Aku berjanji akan membalas budi baik kalian ini suatu hari kelak.”

==oOo==

Tiga tahun telah berlalu sejak Goldilocks “menyatroni” rumah kami dulu. Sejak saat itu, kami sekeluarga selalu berhati-hati dan selalu meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci, sedarurat apapun situasinya.

Namun, kehati-hatian kami itu sepertinya percuma saja bila bahaya yang mendatangi kami jauh lebih berat daripada yang bisa kami atasi sendiri. Jauh, jauh lebih berat daripada menghadapi gadis kecil pencuri bubur.

Di hari datangnya bahaya itu, seperti biasa kami menjelajahi hutan untuk mengumpulkan madu. Sebenarnya kami sudah punya peternakan lebah dan hasil produk madunya lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga kami. Namun kami tetap Kaum Ursa, dan madu hutan tetap adalah kemewahan yang tak tergantikan.

Sekarang, kami sudah lebih mampu mengendalikan naluri kami. Buktinya, kini kami membawa pulang dua guci penuh madu, tak serta-merta dihabiskan semua seperti dulu.

Namun saat tiba di rumah, aku terkejut bukan kepalang.

“Astaga, pintunya jebol! Pencuri macam apa yang menyatroni rumah kita kali ini?” tanya Ull.

“Yang pasti itu bukan gadis cilik biasa,” jawabku sambil mengamati pecahan daun pintu. “Lihat, ada bekas cakaran di sini. Bisa jadi yang masuk adalah hewan buas.”

Tanpa pikir panjang, Garn masuk ke rumah, lalu berteriak, “Ayah, ibu! Semua perabotan kita hancur berantakan! Bahkan… argh!”

“Garn!” Aku dan Ull berteriak serempak.

Ull hendak memasuki rumah, namun aku pasang badan menghalanginya.

Rupanya tindakanku tepat sasaran. Itu karena saat berikutnya, tiga sosok tinggi-besar melangkah keluar rumah. Mereka adalah para ursa jantan, dan salah seekor dari mereka mencengkeram dan menggiring ursa yang lebih kecil, yaitu Garn.

Dari pakaian para ursa yang hanya kulit menutupi bagian bawah tubuh saja, tahulah aku identitas mereka. “Hati-hati! Mereka golongan ursa liar dan buas!”

“Wah, wah, tak perlu menyebut kami dengan kata-kata merendahkan seperti itu, Bar!” kata salah seekor ursa itu yang berbulu kelabu.

Aku terperanjat. “Dari mana kau tahu namaku?”

“Seharusnya kau lebih tahu tentang sejarah kaum kita. Kakek moyangmu, Jenderal Bar adalah pahlawan besar Kaum Ursa di masa Perang Kristal. Tapi tak kusangka, keturunannya di zaman baru ini sudah berubah lembek!”

“Apa maksudmu?” bentakku.

“Bukankah sudah jelas? Baju dan jas, kacamata, celana, gaun… Kalian jadi lebih mirip budak yang dikekang dengan rantai peradaban. Tidak seperti kami yang hidup bebas, bebas melakukan apapun yang kami sukai.”

“Termasuk mencuri, membunuh dan merusak rumah orang? Tindakan-tindakan seperti itulah yang membuat Kaum Ursa diburu seperti beruang kasta hewan!”

Si beruang kelabu meradang. “Setidaknya kami tetap memegang teguh prinsip dan tradisi alami kaum kita! Karena itulah aku, Zed bersama saudara-saudaraku, Brodd dan Klug hendak membangkitkan kembali negeri kita, suku kita! Kita akan punya wilayah sendiri lagi, terpisah dan bebas dari pengaruh manusia dan kekangan peradaban!”

Giliran Brodd, ursa kelabu yang bertubuh lebih besar daripada Zed bicara, “Nah, apa kalian bersedia mengikut kami dan saudara-saudara lainnya memperjuangkan cita-cita mulia ini?”

Sambil tetap tenang dan diplomatis, aku menjawab, “Tawaran kalian sungguh menarik, tapi maaf, kami sekeluarga lebih suka hidup tenteram, damai dan beradab seperti sekarang.”

Ull mengangguk pula. “Ya, jadi lepaskanlah anak kami, kalian bisa pergi dan kami anggap aksi pengrusakan kalian di rumah kami tak pernah terjadi.”

Zed, Brodd dan Klug terdiam mendengar jawaban kami. Lalu meledaklah gelak tawa mereka.

“Enak saja! Memangnya kami rela pergi begitu saja dengan tangan kosong?” bentak Klug, beruang hitam bertubuh agak ramping. Cakar mencengkeram Garn lebih keras, membuat Garn meraung kesakitan. “Biar anakmu ini jadi contoh akibat menolak kami!”

Zed menyela, “Wow, wow, tunggu dulu, Klug. Kita di sini ingin mengajak sesama saudara, bukan merampok dan membunuh.” Ia lalu bicara padaku, “Begini saja, kita selesaikan perbedaan pendapat ini dengan cara ursa sejati.”

“Apa itu?” sergah Ull.

“Pertarungan satu-lawan-satu. Yang terkuat di antara kami melawan yang terkuat di antara kalian. Yang kalah harus menuruti kehendak yang menang atau mati.”

“Baik, jadi aku yang maju,” kataku sambil melangkah maju, menanggalkan jas dan bajuku. Aku jadi seperti beruang liar.

“Jangan mau, ayah! Mereka pasti akan curang!” seru Garn.

“Haha, tak perlu! Ada Brodd di pihak kami!” ejek Zed. “Beri mereka pelajaran, bung besar!”

“Dengan senang hati!” Brodd si beruang berbulu kelabu maju.

Saat berhadap-hadapan denganku, Brodd berdiri tegak di atas dua kaki. Kepalaku tampak sejajar dengan dada ursa itu, membuatku merinding.

Dengan cakar-cakar runcing terkembang, Brodd meraung dan menerjang ke arahku. Aku baru sadar tak pernah bertarung sebelumnya, tapi sekarang sudah terlambat.

Mengambil posisi bertahan, kuayunkan cakarku sekuat tenaga. Namun Brodd berkelit dengan mudahnya dan malah menorehkan luka cakar di wajahku. Bekas luka itu takkan hilang seumur hidupku.

Baiklah, kini amarahku terpantik sudah. Kusabetkan cakar-cakarku berentetan dari berbagai arah, lebih cepat dari yang pertama. Brodd terperanjat, tak menduga kutu buku sepertiku mampu bertarung.

Beberapa cakaran dan pukulanku menghujani tubuh si besar, namun Brodd hanya terdorong mundur satu langkah saja. Tak tampak luka dari bekas-bekas cakaranku itu. Rupanya bulu-bulu Brodd amat tebal, sehingga tubuhnya terkesan membulat.

Yang jelas terluka adalah harga diri Brodd, ditunjukkan dengan cakaran-cakarannya yang makin cepat dan bertenaga. Mengira ia telah gelap mata, kulayani dia dalam jual-beli serangan. Darah lantas bercipratan dari tubuh-tubuh kami berdua. Bahkan satu tamparan dariku membuat kepala Brodd seakan terpuntir ke samping. Badan besarnya oleng, kehilangan keseimbangan.

Melihat kesempatan ini, aku menerjang maju untuk merobohkan Brodd, memastikan kemenanganku. Namun lawan malah bangkit  dan balas menerkamku. Aku terjebak!

Tak hanya itu, Brodd malah memeluk tubuhku erat-erat. Lengan-lengan besarnya terus menekan tubuhku pada tubuhnya yang meraksasa. Aku meraung kesakitan, tulang-tulang punggung dan rusukku serasa remuk-redam.

Kukerahkan segenap tenaga, meronta untuk membebaskan diri dari “pelukan beruang” ini, namun jepitan Brodd malah makin ketat. Gawat! Kalau ini berlangsung terus, tulang-tulangku akan benar-benar remuk, menghunjam organ-organ tubuhku. Ull dan Garn berteriak histeris.

Aku percaya ada surga bagi siluman sepertiku, tapi aku belum ingin pulang ke sana sekarang.

Yang kudengar berikutnya adalah dua kali letusan pistol. Di letusan pertama, Brodd terpelanting ke samping hingga pelukan mautnya pada tubuhku terlepas.

Di letusan kedua, timah panas menggali lubang tepat di pelipis Klug, si beruang ramping. Garn tak lagi jadi sandera, namun ia ternganga ngeri oleh darah yang tersembur dari otak Klug dan mengenai sisi kepala dan tubuhnya.

Masih merintih nyeri, aku menyurut mundur dari lawan untuk melihat si penyelamatku itu. Ternyata si penembak adalah seorang gadis yang masih terbilang remaja. Tubuhnya ramping nan tegap, rambut pirang-panjang keemasannya bagi tudung-jubah yang berkibar ditiup angin.

Melihatnya, Ull yang memiliki ingatan amat tajam berseru, “Astaga, k-kau… Goldilocks?”

“Senangnya ada yang masih ingat nama julukanku setelah tiga tahun tak bertemu.” Goldilocks tersenyum, kecantikannya seolah mencurahkan air sejuk pada suasana tegang ini.

“Klug!” teriak Zed yang lalu meraung penuh duka dan murka ke arah Goldilocks. “Kau telah membunuh saudaraku, kurenggut nyawamu sebagai gantinya!” Tanpa menunggu tanggapan, ia menyerbu maju ke arah gadis berambut emas itu.

Meskipun luka, Brodd juga ikut menyerang si pembunuh saudaranya. Namun aku menabrakkan diriku di tubuh ursa yang membulat itu. “Hei, akulah lawanmu, bung!”

Terdorong lagi dan murka, Brodd mendaratkan rentetan cakarannya pada tubuhku. Rupanya kali ini aku tak siap, makin banyak darah menetes di sekujur bulu tubuhku.

Tiba-tiba, Ull menyeruak dan menampar muka Brodd keras-keras dengan cakarnya, membuat si beruang terkuat terhuyung sejenak. Memanfaatkan kesempatan emas ini, aku mencekal kaki Brodd dan ia terjatuh, menimpa sarang-sarang lebah madu keluarga kami.

Para lebah yang murka langsung merubung dan menyengati Brodd. Sebesar apapun tubuhnya, ursa itu jelas kewalahan oleh ratusan lebah dan terpaksa pergi melarikan diri. Karena tubuh Brodd berlumuran madu, semua lebah itu terbang mengejarnya hingga mereka semua hilang dari pandangan mata. Sejak saat itu, kami tak pernah mendengar tentang Brodd lagi.

Kubelai istriku dengan penuh rasa terima kasih. Lalu kualihkan pandanganku, mencaritahu kondisi sang penolong kami, Goldilocks. Rupanya gadis itu telah jauh pula dari pandangan mata, hanya raungan-raungan ribut Zedlah yang membuatku tahu ke mana mereka bergerak.

“Jaga anak kita, Ull! Biar kupastikan Goldilocks selamat,” seruku sambil mulai berlari.

Tak lama kemudian, mataku tertuju pada seorang gadis tak bersenjata yang sedang dikejar oleh seekor ursa. Cakar-cakar Zed yang sedang mengamuk membuat serpihan-serpihan kayu beterbangan dari setiap pohon yang menghalangi jalannya.

Di sisi lain, Goldilocks bergerak kesana-kemari, kewalahan. Ia tak kunjung mengeluarkan pistolnya, apalagi menyerang langsung lawan yang bertubuh lebih besar dari dirinya.

Sambil aku berlari dan menatapnya, ekspresi wajah gadis itu tak menunjukkan kekuatiran setitikpun. Mungkin ia telah mempersiapkan dan sedang menjalankan sebuah rencana. Jadi kuputuskan untuk mengamati pertarungan ini dari jarak jauh dulu dan baru turun tangan bilamana diperlukan.

“Hadapi aku, dasar gadis pengecut!” Zed memprovokasi lawannya. “Baru sadar ya, aku lebih lincah dari Brodd dan lebih kuat dari Klug! Gerakan lincahku membuatmu kehabisan peluru, lantas kau lari begitu saja? Pantas kau hanya bisa membunuh diam-diam dari jarak jauh saja!”

Seolah telah menebak apa yang tersirat dari provokasi itu, Goldilocks tersenyum. Matanya seakan berkilap saat ia memandang lurus ke depan. Anehnya, ia malah merogoh sesuatu dari sisi baju ketatnya dan dengan sengaja memperlambat larinya.

“Aha, kena kau!” Zed sudah terlalu bernapsu ingin membenamkan cakar-cakarnya ke tubuh Goldilocks. Tanpa ia sadari, setelah si rambut emas lewat di antara dua pohon yang berdiri sejajar, Goldilocks melemparkan dua jarum dari tangan kiri dan dua lagi dari tangan kanannya. Keempat jarum itu menancap di batang kedua pohon sejajar itu, sebentuk jaringan benang seperti jaring laba-laba yang amat tipis dan nyaris tak kasat mata terbentang sempurna, menghalangi jalan Zed.

Ketepatan waktu lemparan Goldilocks itu membuat Zed tak sempat menghindar lagi. Akibatnya, langkah si ursa terhenti dan tubuhnya menempel pada jaring raksasa yang luar biasa lengket seperti jaring laba-laba sungguhan itu. Semua tangan dan kakinya merekat erat, ia tak bisa menggerakkannya lagi sedikitpun. Zed meronta-ronta ingin membebaskan diri, tapi jaring laba-laba malah merekat makin kuat pada tubuhnya.

Saat berikutnya, ujung belati Goldilockslah yang kini menempel di leher ursa itu.

“Menyerahlah, bung,” ancam si pendekar wanita. “Kau dan kawananmu terlalu banyak menimbulkan kerusakan di wilayah ini. jadi kau harus menebusnya dengan hukuman penjara.”

“Enak saja!” bentak Zed. “Kami, Kaum Ursa Bebas tak sudi terikat hukum dan peraturan buatan peradaban di negeri manapun! Hanya yang terkuatlah yang hidup, hanya hidup bebaslah yang berarti, itulah satu-satunya hukum yang kami junjung tinggi!”

Aku lantas maju dan menegur Zed, “Tapi hukum rimba seperti itu sudah gagal, tidak berlaku lagi di zaman peradaban baru ini! Karena masih menganut hukum rimba, Kaum Ursa diburu hingga hampir punah! Aku dan keluargaku tak mau ikut punah bersama kalian, jadi mau tak mau kami mengikuti arus zaman ini untuk bertahan hidup. Mari, ikutlah bersama kami dan kita akan membangun kehidupan yang lestari, mengarungi zaman-zaman seterusnya!”

Zed terdiam untuk beberapa lama, lalu dengan kepala tertunduk ia berkata, “Kurasa kau benar, Bar. Aku telah bersikukuh dengan prinsip yang telah lapuk dimakan zaman dan berakhir di tempat ini. Baiklah, aku bersedia ditangkap dan mempertanggungjawabkan kejahatanku.”

Mendengar nada suara Zed yang lebih halus daripada semula, Goldilocks mundur selangkah dari tubuh ursa yang bertumpu pada empat kaki itu.

Gadis itu lantas berkata, “Nah, kalau begitu aku akan membalas kebaikan Bar dan keluarganya. Dulu aku pernah khilaf karena kelaparan dan mereka telah mengampuniku, jadi kini aku mengampunimu pula. Hiduplah bebas, ajak kaummu agar belajar hidup berdampingan dalam damai.” Goldilocks lantas menebaskan sepasang belatinya, sehingga jaring laba-laba perangkap putus seketika.

Saat tubuhnya dapat bergerak lagi, Zed justru menyabetkan cakarnya ke arah Goldilocks. “Dasar naif, matilah!”

“Jangan!” Aku menyeruak dan pasang badan seketika, sehingga cakar Zed malah menyambarku, menorehkan luka memanjang di dada hingga perutku.

Di saat bersamaan, sebelum aku sempat mencegahnya, Goldilocks sudah lebih dahulu membenamkan bilah sepasang belatinya di dua sisi pelipis Zed. Si ursa liar itu tewas seketika, bahkan sebelum tubuhnya roboh berdebam di tanah.

Melihat kenyataan itu, aku menatap darah pada telapak kaki depanku dan tertunduk lesu. “Aih, ternyata sifat naluriah beruang yang telah mendarah daging amat sulit diubah.”

“Amat sulit memang, tapi bukan mustahil,” sambung Goldilocks. “Buktinya aku sungguh beruntung dulu bertemu kalian. Andai yang tinggal di rumah itu sebuas Zed, aku pasti takkan bisa membalas budi kalian hari ini.”

“Benar katamu,” ujarku.

Melepas lelah sejenak, Goldilocks bercerita bahwa ia terlambat membawakan obat untuk ibunya waktu itu. Alih-alih menyesal, ia berguru pada seorang pendekar dan tumbuh menjadi seorang pemburu monster yang handal. Saat Goldilocks mendengar ada tiga ursa liar membuat onar, ia mengintai rumahku untuk melakukan penyelidikan. Ternyata memang pelakunya bukan kami, jadi iapun bertindak untuk menangkap para pelaku sebenarnya.

Jadi aku berkata, “Nah Goldilocks, sebagai tanda terima kasih, singgahlah di rumah kami. Kami akan menyajikan bubur goulash hangat dan madu hutan yang nikmat untukmu.”

Diadaptasikan ke versi Everna Saga dari kisah dongeng “Goldilocks dan Tiga Beruang” karya Robert Southey (1837) 

https://www.wattpad.com/user/Everna

You cannot copy content of this page