Everna Saga – Klosser Noir

Everna Saga - Klosser Noir

Karangan Andry Chang

“Wah, konser tadi keren sekali, ya!” seru Pia Ljubicic pada Radec Ergovic sambil berjalan menyusuri gemerlapnya kehidupan malam Klosser, ibukota Edel.

“Ya, walau hanya kebagian hologramnya saja, kita beruntung sekali bisa ikut menyaksikan konser live global serempak. Kita tak harus menyeberangi samudera ke Archelia untuk menonton versi real life-nya,” jawab Radec, wajah tampan tirusnya tampak berseri-seri.

“Lagipula, Chandler’s Flare tak harus tur ke setiap kota di dunia dan mendapat hujatan dari netizen nyinyir yang kotanya tak kebagian dikunjungi.”

“Yang penting kau mendapatkan pengalaman yang bisa kau ceritakan pada anak-cucu kita nanti.”

Pia menyenggol pinggang Radec. “’Kita’, katamu? Tunggu dulu ya, kita ‘kan masih pacaran…”

Gemerlap warna-warni di sekitar pasangan kekasih itu mendadak berganti gelap-gulita.

“Bagaimana ini, Rad?” Gemetar, Pia merangkul lengan kekasihnya.

Dengan sigap Radec mengulurkan smartphone gulung yang tampak melingkari pergelangan tangannya dan menyorotkan layarnya ke depan. Seperti lampu senter, cahaya dari layar itu menerangi jalan di depan. Beberapa pejalan kaki lain juga melakukan hal yang sama.

“Jangan panik, mungkin ini gangguan listrik sementara. Begitu kita masuk stasiun, semua akan baik-baik saja karena pasti ada daya listrik cadangan di sana,” hibur Radec.

Di zaman ini, diesel pembangkit listrik sudah jarang digunakan demi menghemat bahan bakar minyak. Gantinya, daya listrik dikumpulkan lewat panel surya atau semacamnya, lalu disimpan dalam baterai-baterai berkapasitas ultra besar atau pelbagai cara mutakhir lainnya.

Pia dan Radec menuruni tangga dari trotoar menuju stasiun kereta bawah tanah.

Parahnya, keduanya dipaksa terperangah. Stasiun itu gelap-gulita, bahkan lebih gelap daripada daerah permukaan tanah yang masih agak remang berkat penerangan sinar bulan.

Sayangnya, belum ada kereta tabung layang di Klosser. Apa boleh buat, sebagai negara yang belum cukup maju di Benua Aurelia, Edel hanya bisa menatap iri ke gemerlapnya negeri-negeri tetangga yaitu Borgia, Bastenmar dan Halethia.

Karena sudah larut malam, stasiun terlihat lengang dan makin gelap. “Astaga, apakah daya cadangan listriknya tak berfungsi?” tanya Pia.

“Mungkin semua cadangan itu untuk kereta dan relnya saja,” tanggap sang pacar. “Yang pasti, mau tak mau kita butuh kereta bawah tanah. Biaya taksi mobil layang jauh lebih mahal daripada ini. Lagipula, rumah kita jauh sekali dari tempat konser. Perlu semalaman jalan kaki sampai subuh. Apalagi saat gelap sekali, akan berbahaya sekali!”

“Hotelpun takkan mau menerima tamu saat mati listrik, karena sistemnya pasti off-line.”

Radec berdecak kesal. “Mau tak mau kita naik kereta bawah tanah. Harap saja masih ada yang beroperasi dan melewati stasiun ini.”

Tanpa terlalu banyak pikir lagi, Radec dan Pia bergegas ke kereta, tapi saat hendak melewati gerbang bayar, mereka dipaksa tercekat lagi. Alat yang seharusnya memindai gelang smartphone di gerbang pembayaran juga mendadak off-line.

“Ya sudah, terobos saja.” Radec melompati palang penhalang dan Pia lewat dari bawahnya. Toh kamera pantau alias CCTV pasti juga tak berfungsi.

Tak lama kemudian, kereta bawah tanah tiba di stasiun. Radec dan Pia memasuki kereta itu tanpa pikir panjang.

Pia menghela napas lega. “Fiuh, akhirnya… Kini kita tinggal ikut sampai stasiun dekat rumah.”

Namun ekspresi wajah Radec masih tegang. Apalagi saat pandangan matanya tertuju pada satu-satunya penumpang selain ia dan Pia di gerbong remang-remang itu.

Si penumpang ketiga adalah seorang pria bertampang lusuh, mengenakan jaket dan celana kusam yang ujungnya sudah robek-robek. Pria itu duduk bersandar di bangku. Kepala plontosnya menegadah, menempel di dinding gerbong. Ia terkesan sedang ketiduran dan bakal bertindak kasar bila dibangunkan.

Karena itulah, Radec mengacungkan jari telunjuk di bibirnya ke arah Pia, lalu menunjuk dengan dagu ke arah si plontos. Pia menurut, ia berdiam diri saja dan menatap ke luar jendela. Empat stasiun terlewati sudah, masih ada enam lagi hingga tiba di stasiun tujuan.

Satu entakan keras membuat Pia dan Radec jatuh dari bangku. Pia cepat-cepat bangkit sambil meringis kesakitan, namun ia lagi-lagi terperangah. Keadaan sekitarnya gelap-gulita, ternyata kereta berhenti nyaris mendadak.

Dua sejoli ini bagai jatuh dan tertimpa tangga. Mereka telah terjebak dalam kereta, dalam terowongan bawah tanah pula.

Ingin mereka keluar saja dari gerbong itu, namun pintu tak bisa dibuka paksa dengan kekuatan dua orang saja. Terpaksa kedua sejoli itu meringkuk pasrah, berpelukan di kursi agar tetap hangat.

Yang terdengar kemudian adalah suara pria menguap, lalu berkata, “Wah, rupanya kereta juga berhenti ya. Apa boleh buat, aku ingin keluar dari sini. Apa kalian mau ikut denganku?”

Radec menyanggah, “Memangnya bisa? Kau pintu itu bisa dibuka dengan tangan, kami sudah keluar dari sini sejak tadi!”

“Pokoknya bisa. Lihat saja.”

Dengan langkah gontai si plontos menghampiri pintu kereta. Ia menyentuhkan kedua telapak tangannya di kedua sisi ambang pintu. Dengan satu entakan, tampak petir menjalari daun pintu.

Beberapa saat kemudian pintu geser perlahan terbuka, terus sampai celah itu dapat dilalui manusia. Tanpa basa-basi lagi, si plontos melangkah keluar dari kereta.

Pia dan Radec ternganga. Satu kesimpulan terbit dalam benak mereka, orang yang berhasil membuka pintu yang tak bisa dibuka dua orang atau lebih itu pasti orang sakti.

Mau tak mau, sepasang kekasih itu ikut keluar. Entah karena penasaran, Pia dan Radec membuntuti si pria kumal yang berjalan cukup santai jauh di depan.

==oOo==

Setelah beberapa menit berjalan kaki, tibalah ketiga insan itu di stasiun terdekat. Pia menyorotkan layar ponsel-gelangnya ke arah papan nama statsiun dan matanya terbelalak.

“Astaga! Ini Pscroban, distrik paling kumuh, paling rawan kejahatan di Klosser!” seru Pia. “Kita salah datang kemari. Ayo, kita terus berjalan sampai stasiun berikutnya…!”

Si plontos yang rupanya sengaja membiarkan diri disusul kedua penguntitnya menyela, “Itu bukan ide bagus. Bagaimana kalau listrik tiba-tiba kembali menyala dan kereta yang kita tinggalkan tadi kembali melaju? Kalau kalian tertabrak kereta, kalian pasti ke akhirat, lho!”

Kata-kata si plontos itu masuk akal juga. Radec mengangguk lalu berkata, “Sepertinya tak ada pilihan kecuali ikut bapak sampai ke tempat yang aman. Oh ya, siapa nama bapak?”

Pria lusuh berusia tiga puluhan tahun itu menjawab, “Panggil aku Zlatan. Begini, bagaimana kalau aku mengantar kalian pulang melewati distrik kumuh sarang penyamun ini? Tapi ingat, imbalanku tidak murah!”

Pia sudah amat ketakutan, jadi ia menjawab tanpa pikir panjang, “Baik, aku setuju. Tolong, pak.”

“Tunggu dulu, aku harus tahu jelas dulu…!”

Zlatan memotong protes Radec, “Ssh, sepertinya ada sesuatu yang mengenap-endap ke arah kita. Cepat ikut aku sekarang kalau masih sayang nyawa!” Si kumal berputar-balik dan melangkah cepat menuju pintu keluar stasiun bawah tanah.

Radec hendak bertanya lagi, namun Pia menarik lengannya, membuat pria itu setengah berlari dan mengikuti Zlatan.

Seolah membenarkan firasat si kumal, terdengarlah langkah-langkah banyak kaki yang berderap cepat dari kejauhan.

“Kita dikejar banyak orang, Radec! Cepat lari!”

“Kau benar! Ayo!”

Kedua insan itu mempercepat lari mereka. Gawatnya, para pengejar makin cepat menyusul. Pia menoleh ke belakang. Di titik yang tersorot cahaya ponsel gelangnya itu tampak sosok-sosok kerdil bertelinga lancip. Mereka jelas bukan manusia.

Pia berteriak histeris, “I-itu goblin!”

“Apa?” sergah Radec sambil terus berlari. “Bukankah goblin sudah dianggap punah sebelum zaman modern?”

“Ternyata tidak! Awas, mereka makin dekat!”

Senjata tajam dan api tentu masih dilarang dibawa oleh umum di zaman ini. Tapi terpaksa Pia mengeluarkan taser, alat setrum untuk membela diri, dari dalam tasnya. Sedangkan Radec mengambil tongkat besi yang teronggok di atas tumpukan besi di dekat dinding stasiun.

Tindakan Radec dan Pia amat tepat, karena goblin pertama sudah menerjang ke arah si gadis.

Walau tak berbekal ilmu beladiri, Pia cukup cekatan berkelit sambil mengulurkan tasernya. Kilatan listrik di ujung taser menyambar tepat  di perut si goblin. Tak ayal, makhluk kerdil buruk rupa itu terpelanting, lalu roboh dan kejang-kejang di lantai peron.

Robohnya si goblin pertama membuat dua rekannya merangsek ke arah Pia sambil meraung.

Kali ini, dengan sigap Radec menghantamkan ujung tongkat besi di wajah si goblin, lalu menyapukan tongkat dan menghantam goblin kedua hingga terpelanting.

Mendadak, kepala Radec terkena tendangan-lompat goblin ketiga. Lalu, seakan tak memberi kesempatan lawan mengambil napas, empat goblin lain menyabetkan pisau dan cakar ke arah Radec dan Pia. Darah mulai terciprat, teriring erangan muda-mudi itu.

Kalah jumlah, Pia berteriak histeris melihat golok goblin terayun ke arahnya. Sudah terlambat menangkis apalagi menghindarinya.

Di ambang batas antara hidup dan mati itulah tiba-tiba satu tinju petir menghantam si goblin itu hingga jatuh terkapar, tak bergerak lagi.

Tak berhenti di situ, tinju dan tendangan petir melayang kesana-kemari dengan irama dan gerakan yang teratur. Orang awam yang melihat ini pasti mengira si pengguna adalah jagoan ilmu beladiri Savate yang sedang beraksi untuk syuting film laga.

Dalam kegelapan, tak jelas berapa banyak goblin yang terhantam jurus-jurus petir itu. Justru yang terdengar hanya suara-suara teriakan goblin yang kesakitan atau melarikan diri ke segara arah, termasuk ke rel kereta bawah tanah.

“Jangan coba-coba kabur!” Dengan sigap si penolong, Zlatan melompat ke rel pula. “Rasakan ini!” Telapaknya yang bermuatan listrik ia hantamkan ke rel. Arus listrik mematikan menjalar ke kedua arah rel itu. Yang berikutnya terdengar adalah erangan pilu beberapa goblin dari arah terowongan.

Dengan gaya amat atletis, Zlatan meloncat dari rel ke atas peron. Saat menghampiri Radec dan Pia yang masih terduduk di tempat, ia berujar, “Astaga, ternyata mereka itu goblin, bukan penjahat atau preman biasa! Apa kalian baik-baik saja?”

“Cukup babak-belur. Tapi mungkin kondisi kami bisa lebih baik bilamana kau muncul lebih cepat, gerutu Radec sambil memegangi kepalanya yang masih nyeri.

“Tadi aku sibuk melumpuhkan beberapa penjahat yang menghadang di tangga ke pintu keluar. Ikut aku dan jangan banyak tanya!” Seketika, Zlatan lari menjauh.

Tak ada pilihan lain, Pia dan Radec terpaksa mengikuti si penolong.

Rupanya Zlatan cukup jujur. Saat mendaki tangga pintu keluar, Pia melihat sedikitnya lima orang manusia, pria dan wanita terkapar di sepanjang anak tangga itu. Kebanyakan dari mereka kejang-kejang seperti baru tersetrum taser dengan daya listrik tegangan tinggi.

Saat ketiga orang itu menapak permukaan tanah, barulah Pia angkat bicara, “Bagaimana bisa goblin dan para anggota geng berkumpul saat mati listrik begini, seolah siap perang?”

“Bisa saja, karena para pemimpin geng-geng di Klosserlah yang amat mungkin menyebabkan mati listrik ini,” jawab Zlatan. “Mungkin pula kini mereka tengah melakukan penjarahan di pusat kota.”

Radec terperangah. “Dan kita malah tersesat di sarang para penjahat itu?”

“Lebih tepatnya, kalian kini terjebak dalam perang melawan geng dan telah menyusup masuk dalam wilayah musuh.”

Radec dan Pia pucat-pasi. Sempat mereka berharap diam saja dalam kereta bawah tanah. Namun resikonya mereka bisa saja bakal sesak napas atau diserbu sekawanan goblin nyasar. Walaupun di daerah yang lebih berbahaya lagi, keberadaan Zlatanlah yang membuat mereka merasa lebih aman.

Zlatan lantas menyerahkan dua pucuk pistol semi-otomatis “kuno” pada Radec dan Pia. “Pakai ini. Aku mengambilnya dari para penjahat yang kurobohkan itu. Apa kalian bisa menggunakannya?”

“Ngg, buka tuas pengamannya, bidik lurus dan tekan pelatuknya, kan?” kata Radec. “Itu yang kutahu dari film-film lama…”

“Ya, itu cukup. Jangan lupa, pistol jenis ini agak berat dan lebih sulit digunakan daripada pistol laser yang mutakhir. Ayo maju, harap saja kalian tak harus menembak siapapun.”

==oOo==

Distrik Pscroban ternyata tak segelap distrik-distrik lain di Klosser yang jauh dari kata “kumuh”.

Betapa tidak, rata-rata bangunan di daerah kumuh ini menjulang tak lebih dari tiga lantai dari permukaan tanah. Akibatnya, sinar bulan jadi tak banyak terhalang oleh bangunan, membuat siapapun yang melintasi daerah itu masih bisa melihat agak jauh ke keremangan malam.

Anehnya, Zlatan malah membimbing Pia dan Radec menyusuri gang-gang yang sempit nan gelap-gulita. Ia bergerak cukup lincah, seakan-akan sudah kenal betul daerah ini.

Karena itulah Radec lagi-lagi menggerutu, “Tak bisakah kita ambil jalan yang lebih terang? Kita bisa disergap kapan saja di sini!”

Zlatan tak menghiraukan gerutuan itu dan terus berjalan cepat.

“Hei, jawab aku, Zlatan! Kalau tidak…!”

Pia memotong ucapan kekasihnya, “Diamlah! Kalau Zlatan berniat jahat, ia pasti sudah merampok kita di kereta tadi!”

Radec terdiam. Wataknya yang emosional dan penggerutu kadang menutupi logika dan akal sehatnya. Tapi semua itu terbit dari kehati-hatian dan dalam situasi terdesak. Jadi, saat logikanya kembali lancar, Radec hanya menghela napas dan maju tanpa bicara lagi.

Namun, itu bukan berarti Radec sama sekali salah. Saat melintasi sebuah gang sempit, sedikitnya lima orang preman menghadang di depan ketiganya. Radec dan Pia spontan berbalik dan dihadang empat preman lain. Ini jelas kepungan dan jebakan.

Radec dan Pia mengeluarkan pistol masing-masing dan membidik.

“Tembak mereka!” seru Zlatan sambil menerjang ke arah musuh di hadapannya.

Sambil memegang pistol dengan dua tangan, Pia menembak serampangan. Satu peluru bersarang dalam pelipis salah seorang pengepung. Namun sisanya meleset, entah menerjang bagian yang tidak vital, menyerempet atau meleset sama sekali dari sasaran.

Radec lebih parah lagi. Ia menekan-nekan pelatuk, tapi tak ada peluru yang keluar. Rupanya ia lupa membuka tuas pengaman. Karena musuh sudah dekat, terpaksa Radec ganti senjata.

Ayunan tongkat besi Radec menghantam telak kepala seorang preman pria. Dua preman lain menyerang dari kiri-kanan. Tongkat Radec menyodok dan meleset dari sasaran. Malah gada bisbol lawan yang menghantam sisi pinggang Radec. Alhasil, pria baik-baik yang tak paham ilmu beladiri itu terbentur dan terpuruk di dinding sisi gang, muntah darah.

Lagi-lagi Pia dan Radec bakal kehilangan nyawa.

Lagi-lagi pula Zlatan muncul di saat yang tepat, tinju dan tendangan petirnya merobohkan beberapa penjahat lagi. Hanya satu musuh yang sempat melarikan diri, namun tubuhnya tertembus petir mematikan dan roboh, tak bergerak lagi.

Pia menanggapi kesadisan Zlatan dengan tatapan ngeri.

Namun, yang ditatap malah berbalik pergi seraya berkata, “Tak ada gunanya mengasihani orang yang telah membuang rasa kasihan miliknya.”

Dengan tubuh masih gemetar, Pia memapah Radec yang masih semaput dan terluka. Radec berbisik, “Apa benar semua preman di Klosser sebegitu busuknya? Pasti ada sesuatu yang membuat Zlatan berpendapat seperti itu. Sebuah rahasia yang ia tutup rapat-rapat dari siapapun.”

Pia balas berbisik, “Mungkin saja. Tapi aku lebih suka selamat karena kesadisan daripada celaka karena kebaikan hati.”

==oOo==

Setelah menyusuri beberapa lorong dan gang lagi tanpa insiden, kali ini Zlatan memandu Pia dan Radec ke tempat yang cukup terbuka.

“Perbatasan Distrik Pscroban sudah dekat, mau tak mau kita harus melintasi jalan besar agar tiba di sana,” kata Zlatan, lagi-lagi untuk menjawab protes Radec.

“Tapi ini masih dini hari. Lagipula kota masih mati listrik dan sepi sekali.” Giliran Pia yang protes. “Apa tak ada jalan lain yang lebih aman?”

Si pria kumal menggeleng. “Kalaupun ada, kita harus mengambil jalan memutar yang amat panjang, lewat perumahan kumuh dan markas-markas geng-geng. Rute itu jauh lebih berbahaya daripada ini. Aku sih tak keberatan ke sana, tapi apa kalian mau ikut juga?”

Tak mau ambil resiko, sebagai “orang awam” Pia tentu menjawab, “Kami pilih jalan besar saja.”

Semua mata tertuju pada Radec. “A-apa maksudnya ini? B-baik! Aku akan ikuti petunjuk Zlatan tanpa banyak tanya lagi!” jawab Radec. “Sudah dua kali ia menyelamatkan nyawa kita, ya kan?”

“Baguslah kalau kau paham. Ayo.” Tanpa buang waktu lagi, Zlatan dan kedua sejoli itu berlari secepat kaki mereka melangkah.

Namun, bahkan Zlatanpun terkejut bukan kepalang. Pasalnya, tiba-tiba lampu-lampu besar mobil menyala, menyorot amat menyilaukan ke arah mereka bertiga. Mobil-mobil itu berderet-deret menutupi jalan, seolah-olah mencegah siapapun keluar-masuk distrik di “waktu perang” ini.

Anehnya, deretan sinar lampu menyilaukan muncul pula dari belakang. Pia, Radec dan Zlatan sontak berbalik dan berdiri terpaku di tempat. Blokade ini ternyata jebakan untuk mereka bertiga.

Terdengarlah suara seorang pria berseru lantang, “Bagai tiga ekor tikus yang terperangkap dalam kandang. Sudah tahu kan rasanya?”

Mengenali suara itu, Zlatan tampil ke depan. Ia lantas menghardik, “Sudah kuduga, kau pasti terlibat dalam aksi ini dan memimpin pasukan penyergap ini, Bogdan Djukic!”

“Aha, seperti dugaanku, ternyata kau yang datang, Zlatan, sobat lama,” katanya. “Walaupun aku tak menduga kau masih bisa bernapas setelah ‘kecelakaan’ di pusat pembangkit tenaga listrik itu.”

“Aku bukan hantu. Justru berkat kecelakaan itu, aku kini cukup sakti untuk membalaskan dendam keluargaku padamu, pembunuh!”

“Coba saja kalau bisa. Aku justru amat senang mendapatkan kesempatan untuk membuatmu menjadi hantu sungguhan.” Bogdan lantas mengulurkan dua pistol yang tergenggam di kedua tangannya, siap ditembakkan ke arah Zlatan. “Jangan ganggu kami. Biar aku bersenang-senang dengan ‘tikus’ itu sebentar.”

“Kalian, menjauhlah.” Peringatan Zlatan dipatuhi seketika oleh Pia dan Radec, yang merapat di depan gedung terdekat.

Beban pikirannya agak terbebas, Zlatan malah maju menyambut todongan pistol Bogdan.

“Bodoh!” Kedua pistol menyalak, memuntahkan beberapa peluru.

Sebenarnya di posisi manapun Zlatan sulit menghindar, namun energi petir memperkuat kakinya sehingga sehingga pergerakan larinya jadi luar biasa cepat.

Tak hanya ia berhasil berkelit dari semua peluru, Zlatan balas menyarangkan tendangan lurus di perut Bogdan. Sang lawan yang berambut gondrong dan berkumis-janggut lebat terpelanting dan tersuruk di jalanan.

Tak berhenti di sana, Zlatan menyusulkan tinju petir sarat dendam, namun meleset dari wajah lawan dan malah menghantam aspal.

Yang berikutnya tampak adalah Bogdan telah mengambil jarak cukup jauh dari lawannya.

“Bukan kau saja yang jadi sakti, sobat,” sindir Bogdan sambil memegangi perutnya. “Mungkin kau bisa memanipulasi listrik dan peralatan listrik, tapi rupanya kecelakaan itu membuatmu mendapatkan kekuatan lain lagi.”

“Apa itu?” tanya Zlatan.

“Yah, katakanlah penyebab mati listrik di Klosser ini bukan karena kerusakan biasa. Itu karena ulah para gremlin, yaitu goblin berakal yang mampu melakukan sabotase yang berada dalam kekuasaanku.”

“Astaga! Jadi pasukan goblin di stasiun kereta bawah tanah itu juga budakmu?”

“Tentu saja! Mereka dapat melihat dengan jelas dalam gelap, sungguh ideal untuk digerakkan selama blackout ini.”

“Biadab kau, Bogdan!” bentak Pia dari kejauhan. “Kau lebih keji daripada setan!”

“Wah, terima kasih.” Bogdan membungkuk seolah memberi hormat setelah pertunjukkan selesai. “Sebagai hadiah dariku, kutampilkan lagi… atraksi utama malam ini! Vare Legion Goblin Aschi!”

Tangan Bogdan menyapu ke kiri-kanan dan terentang, menebarkan bola-bola yang berpendaran hijau di tanah. Saat berikutnya, bola-bola energi gaib itu jadi pipih dan makhluk-makhluk kerdil hijau bermunculan dari “lubang-lubang” itu, jumlahnya tak terhitung.

Segera saja para goblin menyerbu ganas ke segala arah. Karena tak kenal kawan ataupun lawan, Bogdan seharusnya hanya mengerahkan pasukan goblin di tempat dan waktu tertentu, agar tak merugikan kawan sendiri.

Namun, kali ini Bogdan mengerahkan pasukan ganas di tengah-tengah kepungan pasukannya sendiri. Walaupun para goblin cukup fokus menyerang trio Pia-Radec-Zlatan di awal, saat dibalas dengan perlawanan sengit mereka malah menyerang pasukan preman pula.

Pia dan Radec juga ikut membendung banjir goblin ini dengan senjata-senjata masing-masing. Namun musuh yang mencapai keduanya tak sampai keterlaluan banyaknya, karena kebanyakan dari mereka telah dibendung dulu oleh Zlatan.

Di sisi lain, Zlatan makin kewalahan dikepung begitu banyak goblin. Tinju, tendangan dan tembakan petirnya hanya melumpuhkan segelintir musuh.

Hampir sekejap, tak terhitung goblin yang merubung, bahkan bertumpuk-tumpuk seakan mengubur satu manusia malang itu hidup-hidup. Hampir dipastikan, Zlatan bakal tewas dengan tubuh remuk-redam.

Yang terjadi berikutnya adalah satu ledakan teramat dahsyat. Energi listrik terpancar ke segala arah, membuat kerumunan tumpukan goblin buyar beterbangan.

Yang tersisa setelah ledakan itu hanya sosok seorang pria dengan tubuh terbungkus cahaya putih yang menyambar-nyambar. Bahkan Bogdanpun terperangah, tak menyangka mantan rival yang dulu ia singkirkan jadi sesakti ini.

Luapan energi listrik yang melampaui batas wajar menuntut untuk disalurkan. Karena itulah, sosok manusia petir Zlatan merangsek secepat kilat. Sasarannya hanya satu, Bogdan.

Bogdan sempat menebar rentetan peluru ke arah lawan, namun percuma saja. Peluru-peluru itu hanya memantul di tubuh yang terbungkus zirah energi murni itu. Sebelum si gondrong sempat menangkis atau apapun, satu tangan petir telah mencekik lehernya.

“Bogdan! Kau telah menabur angin, kini tuailah badai!” Zlatan berseru sekuat suara, aliran listrik dari tubuhnya deras merasuki tubuh musuh bebuyutannya. Sekeras apapun Bogdan berteriak, energi Zlatan tak surut setitikpun. “Inilah balasan dari keluargaku untukmu!”

Akhirnya, kepala Bogdan terkulai lemas. Seluruh rambut gondrongnya rontok, tubuhnya hangus. Setelah pendaran petir di tubuh Zlatan pudar, barulah tubuh Bogdan yang kering dan tak bernyawa roboh di aspal jalanan. Bogdan, anak jalanan yang besar karena ambisinya yang tak terbatas kini jatuh oleh ambisinya sendiri dan berakhir di jalanan pula.

Karena “sang raja” telah tumbang, pasukan goblin di medan tempurpun seperti kehilangan arah. Alhasil, makhluk-makhluk berakal pendek itu berpencaran kacau ke segala arah.

Tugasnya tuntas, Zlatan berdiri limbung di tempat. Ia terkesan seperti kehabisan energi, namun matanya menatap nanar ke sekitarnya seperti serigala terluka. “Ayo, siapa lagi yang ingin bernasib seperti Bogdan?” tantangnya terang-terangan.

Semua preman yang masih berdiri hanya diam saja, sama sekali tak menyerang. Bahkan insan bermoral paling rendahpun tahu berterima kasih pada orang yang telah menyelamatkan mereka dari amukan gerombolan goblin.

Karena tak ada yang maju, Zlatan berseru pada Pia dan Radec, “Ayo, kita tinggalkan distrik ini!”

Radec, Pia dan Zlatan masuk ke salah satu mobil penghadang yang tak bertuan. Lalu Radec mundur dan banting stir, memacu mobil itu meninggalkan tempat kejadian di Distrik Pscroban.

==oOo==

Ketika ketiga orang yang baru selamat dari serbuan preman itu tiba di dekat rumah Pia, listrik dan internet kembali menyala. Mereka turun dari mobil layang dan berbincang sejenak.

“Tak apakah kau mengemudi, Zlatan?” tanya Radec. “Seharusnya kau ke rumah sakit! Luka-lukamu itu harus segera dirawat!”

“Tak perlu. Aku harus menghindari rumah sakit dan pergi ke dokter kenalanku saja,” jawab Zlatan. “Jadi aku butuh mobil ini. Lagipula kalian sudah selamat sekarang. Pulang dan istirahatlah.”

“Terima kasih telah mengantar dan menyelamatkan kami, Pak Zlatan,” ucap Pia tulus.

“Ya. Satu pesan dariku, kalau kalian menikah nanti, usahakanlah pindah dari Klosser. Entah kapan kota ini bisa terbebas dari semua organisasi dan geng kejahatan.”

“Kami akan selalu ingat pesan bapak,” ujar Radec sambil menjabat tangan Zlatan. “Apalagi kebaikan bapak juga.”

Zlatan menumpangkan satu tangan di atas tangan Radec. “Ah, aku sekalian menyelesaikan urusanku juga dengan Bogdan, jadi terima kasih untuk kalian juga. Selamat tinggal!” Keduanya berjabatan tangan dengan mantap, pergelangan-dengan-pergelangan.

Pia hanya bisa menatap antara kagum dan haru melihat mobil Zlatan yang melaju cepat dan menjauh hingga lenyap dari jangkauan pandangan mata di bawah keremangan lampu-lampu jalan. Walaupun juga demi balas dendam, orang yang rela berdarah-darah untuk melindungi sesamanya tanpa pamrih itu sungguh amat langka di dunia ini, di zaman serba canggih ini.

Tiba-tiba Pia terkejut mendengar suara histeris Radec. Ia menoleh dan melihat mata kekasihnya terbelalak di depan layar holografis smartphone gelangnya. “Ada apa, Rad?” tanyanya.

Radec memperlihatkan angka nol besar di layar gawainya itu. “S-saldo tabunganku terkuras habis! Si Zlatan itu pasti telah meng-hack smartphone-ku saat menjabat tanganku tadi! Jadi itu maksudnya dengan kata ‘tidak murah’ di kereta! Siaal!”

Radec hanya bisa mengumpat dengan kata-kata kasar, sedangkan Pia hanya bisa tersenyum getir dan berkata, “Maaf ya, Radec. Aku tak tahu bakal begini jadinya.”

https://www.wattpad.com/user/Everna

You cannot copy content of this page