7+ Jenis Sudut Pandang Dalam Cerita

Jenis-Jenis Sudut Pandang Dalam Cerita

Pernahkah kalian membaca novel detektif lalu penasaran dengan kasus yang dihadapi sang detektif? Atau kalian pernah membaca Death Note? Dimana kalian bisa merasakan bagaimana menjadi sosok penjahat yang ingin mengalahkan sang detektif. Jika pernah, maka kalian sudah merasakan manfaat penentuan sudut pandang dalam suatu cerita. Sederhana namun krusial, begitulah saya menyebutnya. Bahkan menentukan sudut pandang dalam suatu cerita bisa memakan waktu berbulan-bulan. Namun hal itu tidak perlu terjadi lagi karena saya akan membantu kalian untuk menemukan jawabannya.

Pengertian Sudut Pandang (Point of View)

Sudut Pandang adalah cara seorang penulis untuk mengambil peran dan menceritakan dalam ceritanya sendiri. Seorang penulis bisa mengambil peran utama dalam suatu cerita bahkan menjadi Tuhan dalam cerita tersebut. Dengan sudut pandang yang tepat akan memudahkan Anda memainkan emosi pembaca.

Jenis-jenis Sudut Pandang

Sudut pandang pada dasarnya ada tiga jenis. Namun para penulis terkemuka sudah berhasil menyajikan sebuah cerita dengan banyak varian. Berikut ini saya akan bantu jelaskan sudut pandang dalam novel beserta variannya.

  • Sudut Pandang Orang Pertama Tunggal /  Jamak

Anda sebagai pengarang akan ikut serta dalam suatu cerita. Apa yang ditulis dalam cerita adalah pengalaman langsung yang Anda alami sebagai tokoh dalam cerita. Menulislah sebagai tokoh yang Anda perankan sebagai “Aku”. Bila Anda sedang melakukan perjalanan secara berkelompok, maka bisa menggnauakn kata ganti “Kami”. Kata ganti tunggal dan jamak bisa dipakai sesuai situasi. Namun ada beberapa cerita yang konsisten menggunakan kata ganti “Kami” sebagai dari awal hingg akhir cerita.

  • Narator Tak Bisa Dipercaya

Atau disebut juga Unreliable Narator. Kisah dengan narator jenis ini umumnya menggunakan sudut pandang orang pertama. Unreliable Narator harus meyakikan pembaca bahwa dirinya adalah sang pelaku utama. Pembaca tidak boleh mengetahui bahwa dirinya sedang ditipu oleh sudut pandang si narator. Unreliable Narator tidak hanya membohongi pembaca, bahkan dia juga membohongi dirinya sendiri. Hal ini disebabkan karena tokoh yang Anda perankan memiliki kelanan jiwa. Beberapa dikarenakan mengalami temporal amnesia.

Contoh SP1 Tunggal, Jamak, Tak Bisa Dipercaya:

Aku terbangun dengan kepala sepeti dipukuli. Pandangku terhadap ruangan sekitar benar-benar buruk. Aku harus menemukan kacamataku. Benda penting tersebut pasti tidak jauh dari posisiku sekarang. Dengan meraba-raba lantai akhirnya tanganku menyentuh batang logam yang dingin. Kurasa itu adalah katamataku. Setelah kugunakan kacamata tersebut, rupanya aku sedang tersadar disuatu kamar dengan lima mayat di lantai.

  • Sudut Pandang Orang Kedua

Konsepnya mirip dengan sudut pandang orang pertama. Saya mengatakan mirip karena prakteknya bisa berbeda sama sekali. Jika kalian ingin menganggapnya sebagai SP1 dengan kata ganti “kamu” / “anda” / “kau” tidak masalah. Tugas narator dalam cerita ini mirip seperti tukang hipnotis yang sedang memberi sugesti. Namun kalian harus konsisten. Jangan pernah menggunakan kata ganti “aku”.

Contoh SP2:

Kamu terbangun di suatu ruangan gelap. Ruangan tempat kamu berada seperti bangunan abad pertengahan. Kamu terdiam sejenak untuk mengumpulkan seluruh kesadaran. Rupanya kamu tidak sendirian. Masih ada delapan orang lainnya yang masih tak sadarkan diri. Semua orang tersebut nampak familiar olehmu, tapi kamu tak ingat apapun.

Sudut Pandang Orang Ketiga.

Posisi narator dalam sudut padang ini berada di luar cerita. Penulis tidak bisa berinteraksi dengan tokoh dalam novel. Hanya menceritakan apa yang dilihatnya. Dalam sudut pandang ini narator akan menggunakan kata ganti “dia” / “(nama toko)” / “mereka”

Sudut Pandang Orang Ketiga Mahatahu

Penulis seperti Tuhan dalam karyanya, yang mengetahui segala hal tentang semua tokoh, peristiwa, tindakan, termasuk motif. Penulis juga bebas berpindah dari satu tokoh ke tokoh lain. Bahkan bebas mengungkapkan apa yang ada dipikiran serta perasaan para tokohnya.

Contoh:
“Ibrahim?!”
“Ya, Ibrahim. Seperti itulah tugasnya setelah dipanggil pulang…”
Jawaban itu tak memuaskan, Ranju masih dliputi ketakpercayaan saat si guide bertudung memintanya melanjutkan jalan. Secepat Ranju berkedip, secepat itu Ranju menjumpai pantai di matanya. Dan itu membuat Ranju mulai percaya ini tak dunia? Tidak, hatinya masih penuh logika. Meski Ranju ingat, dia tadi berjalan diatas air, dia tadi menghirup susu di parit kecil pinggir jalan, dia tadi menatap wanita–wanita elok yang menyapa genit. Ranju bermain–main di pikiran sampai–sampai si guide bertudun menyentak lengannya. Ranju terpaku diluar pagar sebuah rumah kecil serupa rumah keluarga Amerika kelas menengah. (Lelaki Di Tengah Lapangan – Ardyan Amroellah)

Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas.

Penulis melukiskan segala apa yang dialami tokoh hanya terbatas pada satu orang atau dalam jumlah yang sangat terbatas. Penulis tak leluasa berpindah dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Melainkan terikat hanya pada satu atau dua tokoh saja.

Contoh:
Selalu ada cita di dalam benaknya, untuk mabuk dan menyeret kaki di tengah malam, menyusuri Jalan Braga menuju penginapan. Dia akan menikmati bagaimana lampu-lampu jalan berpendar seperti kunang yang bimbang; garis-garis bangunan pertokoan yang berderet tak putus acap kali menghilang dari pandangan; dan trotoar pun terasa bergelombang seperti sisa ombak yang menepi ke pantai. (Lagu Malam Braga – Kurnia Effendi)

Sudut Pandang Orang Ketiga Objektif

Narator melukiskan semua tindakan tokoh dalam cerita namun tak mengungkapkan apa yang dipikirkan serta dirasakan oleh tokoh cerita. Penulis hanya boleh menduga apa yang dipikirkan, atau dirasakan oleh tokoh ceritanya.

Contoh:
Si lelaki tua bangkit dari kursinya, perlahan mengeluarkan pundi kulit dari kantung, membayar minuman dan meninggalkan persenan setengah peseta. Si pelayan mengikutinya dengan mata ketika si lelaki tua keluar. Seorang lelaki yang sangat tua yang berjalan terhuyung tetapi tetap dengan penuh harga diri.
“Kenapa tak kau biarkan saja dia minum sampai puas?” tanya si pelayan lain. Mereka berdua menurunkan semua tirai. “Belum jam setengah dua.” lanjutnya.
“Aku ingin cepat pulang dan tidur.” (Tempat yang Bersih Terang – Ernst Hemingway)

Sudut Pandang Orang Ketiga Jamak

Penulis menuturkan cerita berdasarkan persepsi atau kacamata kolektif. Penulis akan menyebut para tokohnya dengan menggunakan kata ganti orang ketiga jamak; “mereka”.

Penulis menuturkan cerita berdasarkan persepsi atau kacamata kolektif. Penulis akan menyebut para tokohnya dengan menggunakan kata ganti orang ketiga jamak; “mereka”.

Contoh:
Pada suatu hari, ketika mereka berjalan-jalan dengan Don Vigiliani dan beberapa anak lelaki dari kelompok pemuda. Dalam perjalanan pulang, mereka melihat ibu mereka di sebuah kafe di pinggir kota. Dia sedang duduk di dalam kafe itu; mereka melihatnya melalui sebuah jendela dan seorang pria duduk bersamanya. Ibu mereka meletakkan syal tartarnya di atas meja. (Ibu – Natalia Ginzburg).

Sudut Pandang Campuran

Penulis menempatkan dirinya bergantian dari satu tokoh ke tokoh lainnya dengan sudut pandang yang berbeda-beda. “aku”, “kamu”, “kami”, “mereka”, dan atau “dia”.

Novel:

  1. Sword Art Online
  2. Bartemaeus Trilogy

You cannot copy content of this page